AT-ISLAM - Sejarawan
Alwi Shahab menekankan, saat Bung Karno mendekam di balik jeruji besi. Islam
banyak memengaruhi pandangannya dalam politik. "Bung Karno banyak mengutip
ayat Alquran dalam pidato. Dia begitu terpengaruh apa ajaran Islam," kata
Alwi beberapa waktu lalu.
Bahkan, ia menyebutkan, paham Marxisme dan Leninisme membuatnya
lebih meyakini Islam. Dasar teori komunisme tersebut yang membuat Bung Karno
berpikir tentang masa depan bangsa Indonesia. Keyakinan untuk membebaskan
rakyat dari penjajahan.
Di
dalam penjara dan saat pengasingannya ke Ende, Bung Karno memahami Islam
sebagai agama yang damai, berkah, antipenjajahan, dan eksploitasi manusia,
serta revolusioner. Bung Karno ingin mengajak umat Islam di Indonesia selalu
mengambil api semangat dari Islam.
inherit;">Pakar
sejarah Islam di Indonesia dari UIN Sunan Gunung Djati, Dr Moeflich Hasbullah,
menuturkan, saat menumpang di kediaman HOS Tjokroaminoto, Bung Karno bisa
dibilang masih dalam tahap belajar. Setelah banyak membaca dan bersurat dengan
A Hassan, Bung Karno seperti menemukan versi Islam yang dalam jangka waktu lama
dicari-carinya. “Kalau dibahasakan sekarang, mungkin (Bung Karno mengatakan)
'inilah yang selama ini saya cari-cari!'” kata Dr Moeflich kepada Republika,
pekan lalu.
Menurut Dr Moeflich, Islam yang disukai Bung Karno bukan Islam
yang lemah. Bukan umat yang mengeluh, penuh dengan khurafat, dan segala
kemunduran hidup. Dalam sebuah tulisannya pada tahun 1940, kata Dr
Moeflich, Sukarno melihat ada gejala kurang baik dari sebagian kaum Muslim. Dengan
nada kecewa, Sukarno menamakan mereka ini sebagai umat Islam yang
"sontoloyo".
Salah satu contohnya, sebagian orang yang cenderung permisif
terhadap mereka yang menyerobot hak kaum miskin atau anak yatim serta
menyebarkan fitnah. Terhadap pihak-pihak ini, orang Islam "sontoloyo"
itu tidak menudingnya sebagai menyalahi Islam.
Sebaliknya, kepada pihak-pihak yang, umpamanya, memakan daging
babi, meski hanya sekerat, tudingan yang berat dapat dilancarkan. Hal itu
bahkan tidak jarang disertai sebutan kafir. Singkatnya, bagi Sukarno, kaum
Muslim "sontoloyo" adalah mereka yang hanya mementingkan aspek
permukaan, alih-alih substansi, dalam beragama.
“Jadi, ketika belajar Islam, Bung Karno menemukannya pada sosok
A Hassan. Islam versi modern, Islam versi rasional, yang tidak sontoloyo.
Itu kan cerminan
pemikiran modern Bung Karno,” kata Dr Moeflich.
Sumber : republika.co.id